A.   Masuknya Islam di Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan yang terkenal dengan pelayar-pelayar yang mampu mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad Masehi sudah ada rute perjalanan dan pelayaran dalam berdagang antara kepulauan Indonesia dengan berbagai wilayah di daratan Asia Tenggara. Wilayah barat nusantara dan Malaka sejak dahulu menjadi pusat perhatian, karena wilayah ini menghasilkan hasil bumi yang menarik minat para pedagang. Selain itu daerah ini juga menjadi lintasan penting Cina dan India.

Hasil rempah dan hasil hutan Indonesia dibawa ke Cina dan India terutama daerah Gujarat yang langsung mengadakan hubungan dagang dengan Malaka pada waktu itu. Hasil rempah-rempah yang ada di Indonesia sangat menarik minat para pedagang muslim baik yang datang dari Arab, Persia maupun India.

Pada abad ke-13 M, banyak para pedagang muslim yang membentuk koloni-koloni dengan penduduk pribumi. Masyarakat muslim ini pada mulanya berada di Samudera Pasai, Perlak, Palembang semuanya berada di kepulauan Sumatera. Di Jawa, makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik Jawa Timur yang berangka 475 H (1082 M) dan makam-makam Islam di Tralaya sebagai bukti bahwa komunitas Islam telah berkembang di pusat kekuasaan Hindu-Jawa. Namun demikian, sumber sejarah yang memberikan kesaksian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan tentang komunitas Islam di Indonesia, baik berupa prasasti maupun berita asing baru ada ketika komunitas Islam tersebut sudah menjadi pusat kekuasaan atau kerajaan Islam.

Perkembangan Islam di Indonesia terbagi menjadi 3 fase yaitu pertama singgahnya para pedagang di pelabuhan  Nusantara, hal bersumber dari berita di negara Cina, kedua adanya komunitas Islam di kepulauan-kepulauan Indonesia terbukti dengan adanya makam-makam orang Islam, ketiga berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.

B.   Para pembawa Islam ke Indonesia

Diantara pembawa agama Islam tersebut adalah :

  1. Gujarat (India), pedagang Islam dari Gujarat menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar lain : ukiran batu nisan gaya Gujarat dan adat istiadat budaya India Islam.
  2. Persia, pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antara lain : gelar “Syaikh” bagi raja-raja di Indonesia,  pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syaikh Siti Jenar) dan pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).
  3. Arab, pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti antara lain : adanya komunitas Arab dari Oman, Hadramaut, Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di lingkungan sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka, munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan islam.
  4. Cina, pedagang dan angkatan laut Cina (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan)  mengenalkan Islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan bukti antara lain  : Gedung Batu di Semarang (masjid gaya Cina), beberapa makam Cina muslim dan wali yang keturunan Cina.

Dari beberapa bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan pendekatan cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan sosial yang penuh dengan toleransi dan saling menghormati.

C.   Perkembangan Islam di Indonesia

Awal mula kekuasaan Islam telah dirintas sejak abad ke-7 Masehi, namun semuanya tenggelam oleh kekuatan kerajaan Sriwijaya di Palembang dan kerajaan Singasari dan Majapahit di Jawa Timur. Pada masa ini pedagang dan mubaligh Islam membentuk komunitas muslim. Mereka mengenalkan ajaran Islam yang mengutamakan toleransi dan persamaan derajad diantara sesama manusia. Sementara ajaran Hindu yang dikembangkan kedua kerajaan tersebut menekankan pada perbedaan status dan derajad manusia. Hal ini yang menarik perhatian masyarakat untuk mempelajari agama yang baru. Dengan metode ini agama Islam berkembang pesat dengan cara damai.

Masuknya Islam ke Indonesia terjadi secara bergelombang tidak bersama-sama. Disamping itu ketika Islam masuk ke daerah-daerah situasi sosial politik yang berkembang juga berbeda-beda. Pada awal abad ke-7, Sriwjaya meluaskan ekspansinya ke semenanjung Malaka untuk menguasai selat Malaka yang menjadi kunci perdagangan internasional. Kedatangan pedagang muslim di selat Malaka belum berdampak pada situasi politik. Baru pada abad ke-9 ketika terjadi pemberontakan kaum Cina, kaum muslimin banyak yang melarikan diri ke daerah kekuasaan Sriwijaya yang memang melindungi kaum muslim.

Pada abad ke-12 kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Kelemahan kerajaan  Sriwijaya ini dimanfaatkan oleh para pedagang muslim untuk mendapatkan keuntungan politik dan perdagangan. Mereka mendukung daerah-daerah yang muncul dan yang menyatakan diri sebagai kerajaan Islam.

D.   Proses Islamisasi di Indonesia

Islam masuk ke Indonesia secara damai dan tanpa ada pergolakan apapun. Dengan cara yang demikian banyak masyarakat yang simpati dan menaruh perhati yang lebih terhadap agama Islam. Banyak sekali bentuk Islamisasi yang terjadi di Indonesia antara lain :.

  1. Melalui perdagangan. Kesibukan lalu lintas perdagangan abad ke-7 M hingga ke-16 M menjadikan para pedagang muslim ikut berpartisipasi didalamnya. Penyebaran Islam melalui jalur perdagangan ini sangat menguntungkan, karena para raja dan bangsawan turut ambil bagian dalam proses ini. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mendatangkan para mullah-mullah dari negerinya sehingga jumlahnya semakin bertambah banyak.
  2. Melalui pernikahan. Secara ekonomi status sosial para pedagang muslim lebih tinggi dibanding penduduk pribumi. Sehingga puteri-puteri pribumi tertarik untuk menjadi istri saudagar muslim tersebut. Sebelum dinikahkan, tentunya mereka harus masuk Islam terlebih dahulu. Dengan pernikahan ini keturunan semakin banyak dan lingkungan semakin luas. Jalur pernikahan lebih menguntungkan ketika anak saudagar muslim menikah dengan anak bangsawan atau anak raja.
  3. Melalui tasawuf. Tasawuf mengajarkan akan kelembutan budi. Mereka mengajarkan ilmu tasawuf yang digabungkan dengan budaya yang sudah ada. Ajaran tasawuf yang dikembangkan berupa memanfaatkan kekuatan magis dan memiliki kemampuan menyembuhkan orang lain. Tentunya atas izin Allah swt.
  4. Melalui pendidikan,jalur ini dengan cara mendirikan pondok pesantren. Para penduduk pribumi dididik oleh para ulama’ dengan pendidikan yang kuat dan diberi bekal segala ilmu agama. Setelah dirasa cukup, mereka disuruh kembali ke daerahnya dan diharuskan menyebarkan ilmu yang telah didapatkan dipesantren.
  5. Melalui kesenian,yang paling terkenal adalah seni pertunjukan wayang. Dimana semua tokoh-tokoh Hindu dalam pewayangan diganti namanya dengan istilah Islam. Hal ini yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Selain itu juga bisa melalui seni kaligrafi, seni ukir dan seni bangunan.
  6. Melalui politik, dengan cara mengislamkan rajanya terlebih dahulu. Kemudian baru rakyatnya mau memeluk agama Islam. Karena sabda raja adalah sabda Tuhan.

E.   Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia

       I. Kerajaan Islam di Sumatera

  1. Kesultanan Peureulak, Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292.
  2. Kerajaan Samudera Pasai, Samudra Pasai terletak di timur laut aceh Lhakseumauwe (Aceh Utara) dan merupakan kerajaan kembar. Diperkirakan berdiri pada abad ke-13 sebagai hasil dari proses islamisasi daerah pantai yang pernah disinggahi para pedagang muslim pada abad ke-7, dan ke-8.
  3. Kesultanan Malaka, Kesultanan Malaka (14021511) adalah sebuah kesultanan yang didirikan oleh Parameswara, seorang putra Melayu berketurunan Sriwijaya. Parameswara merupakan turunan ketiga dari Sri Maharaja Sang Utama Parameswara Batara Sri Tri Buana (Sang Nila Utama), seorang penerus raja Sriwijaya. Sang Nila Utama
  4. Kerajaan Aceh Darussalam.Kerajaan Islam yang kedua adalah Kerajaan Aceh sekarang terletak di daerah kabupaten Aceh Besar. Mengenai berdirinya terjadi pada abad ke-15 diatas puing-puing kerajaan Lamuri. Pendiri kerajaan ini adalah Muzafar Syah. Pada masa ini, kerajaan mengalami kemajuan di bidang perdagangan. Karena pedagang muslim yang sebelumnya di selat Malaka memindahkan aksesnya, karena Malak sudah dikuasai oleh Portugis.
  5. Kesultanan Johor, Kesultanan Johor terkadang disebut sebagai Johor – Riau atau Johor – Riau – Lingga adalah kerajaan yang didirikan pada tahun 1528 oleh Sultan Alauddin Riayat Syah, putra sultan terakhir Melaka, Mahmud Syah.

      II. Kerajaan Islam di Jawa

  1. Kerajaan Demak, Islam masuk di pulau jawa ( termasuk demak ) tidak lepas dari peran para wali yang disebut Wali Songo yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Sunan Ampel / Raden Rahmat (putra Sunan Gresik), Sunan Bonang / Raden maulana Makdum Ibrahim (Putra Sunan Ampel /saudara sepupu Sunan Kalijogo), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Drajat (Raden Qosim atau Syarifudin atau Putra Sunan Ampel), Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid), Sunan Kudus (Ja’far Shodiq), Sunan Muria (Raden Umar Said), Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
  2. Kerajaan Pajang,Kerajaan Pajang adalah pewaris kerajaan Islam Demak. Kesultanan yang terletak didaerah Kartasura sekarang ini merupakan kerajaan Islam pertama yang berdiri di daerah pedalaman pulau Jawa.Sultan pertama kerajaan Pajang adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging di lereng gunung Merapi.
  3. Kerajaan Mataram, Kerajaan ini mengalami masa / puncak kejayaan pada raja Sultan Agung. Salah satu dengan adanya karya sastra gendhing berisi ajaran filsafat kesucian jiwa, UU hukum pidana dan perdata bernama Surya Alam dan mengganti perhitungan tahun Hindu dengan tahun Islam.
  4. Kesultanan Cirebon, Kasultanan Cirebon adalah kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Pada awal abad ke-16, Cirebon masih berupa daerah kecil di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran.
  5. Kesultanan Banten,Dipimmpin Sultan Abdul Mafakir Mahmud Abdul Kadir tahun 1626, anten mengalami kemajuan cukup pesat. Beliau mendapat gelar Sultan dari Makkah. Dialah raja Banten pertama dengan gelar Sultan yang sebenarnya. Ia meninggal pada tahun 1651 dan digantikan oleh cucunya Sultan Abdul Fath Abdul Fath. Raja inilah yang terakhir memimpin kerajaan Banten.

    III. Perkembangan Islam di Sulawesi

  1. Kerajaan Gowa, Penyebaran Islam di sulawesi tidak lepas dari peranan Sunan Giri dan para santri-santrinya. Raja gowa yang terkenal adalah Sultan Hasanudin,sebagai raja yang sangat pemberani. Ia memperluas ekspansinya sampai ke Flores dan Sumbawa. Dengan keberaniannya itu ia dijuluki sebagai ”ayam jantan dari timur”.Kerajaan Gowa. Islam di Sulawesi Selatan mencapai puncak keemasannya sekitar awal abad ke-18 yang ditandai dengan berlakunya syariat Islam dalam berinteraksi sosial.
  2. Kerajaan buton, Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani ( dari Johor ) berhasil mengislamkan Raja Buton sekitar tahun 948 H/ 1538 M. Riwayat lain mengatakan tahun 1564 M. Sultan Halu Oleo dianggap sebagai Sultan Buton pertama, bergelar Sultan atau Ulil Amri dan menggunakan gelar yang khusus iaitu Sultan Qaimuddin. Maksud perkataan ini ialah Kuasa Pendiri Agama Islam.
  3. Kesultanan Bone,  sering dikenal dengan Kesultanan Bugis, merupakan kesultanan yang terletak di Sulawesi bagian barat daya atau tepatnya di daerah Provinsi Sulawesi Selatan sekarang ini.

 

Untuk materi lainnya dan soal latihan dapat diluhat dan diunduh .… disini …. !

4 Tanggapan to “Sejarah Islam di Nusantara”


  1. alhamdulillah dapet tambahan materi, mohon ijin untuk digunakan sebagai salah satu referensi penulisan buku, terima kasih


    1. Silahkan, mudah-mudahan bermanfaat


      1. terima kasih, insya Allah bermanfaat, mohon kerjasamanya apa yang bisa kita lakukan antar sekolah kita. saya di smp islam cikal harapan bsd serpong tangerang selatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s